Kamis, 04 Februari 2010
"SAIL BANDA" Membuka Pintu Wisata
Reporter By : Redaksi
Jakarta : Wisata alam maluku dan sekitarnya memang sangat indah. Terutama kekayaan alam laut yang sangat banyak. Di hotel Borobudur semalam launching "SAIL BANDA 2010" dibuka dengan tabuhan tifa secara simbolik oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dan Menko Kesra Agung Laksono.

Sail Banda 2010 diharapkan sukses seperti Sail Bunaken. Kegiatan dipusatkan di Maluku dan Maluku Utara,dengan difokuskan pada laut Banda.

Sail Banda akan dimeriahkan pula dengan acara menyelam bagi atlet-atlet selam kelas dunia di laut Banda. Perjalanan mereka dimulai dari Darwin sampai Maluku. Dengan kedatangan penyelam kelas dunia tersebut yang mahir dalam fotografi diharapkan mereka dapat menyebarluaskan tentang keindahan laut Banda pada dunia luar.

Launching yang dilakukan malam ini,Rabu 4/2 akan dilanjutkan dengan launching di Ambon dan diharapkan persiapan yang dilakukan telah mencapai 90%.

Fadel Muhammad mengatakan,bahwa Sail Banda memang mengusung misi membawa Pesona Banda dimata dunia,sehingga kekayaan biota laut dan mikrobiologi laut Banda akan menjadi daya tarik wisatawan.

Untuk menunjang kegiatan tersebut, semua aspek benar-benar dipersiapkan dari mulai maskapai penerbangan hingga hotel-hotel sudah mulai dibenahi dan tingkatkan mutunya sehingga dapat memberikan pelayanan yang maksimal.

Kegiatan Sail Banda ini diperkirakan akan menyedot dana sebesar 40 Milliar. Rangkaian acara akan berakhir dengan ceremony yang dilakukan dengan upacara peringatan kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus mendatang.

Tentang Biota Laut

Saat diminta keterangan,mengenai pelestarian biota laut Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (P2 SDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Aji Sularso mengatakan "Indonesia membutuhkan minimal enam kapal pengawas terumbu karang untuk mengawasi areal seluas 80.000 kilometer persegi."

"Wilayah perairan kita yang ditutupi terumbu karang sangat luas. Kita butuh kapal yang bisa menjangkau perairan dangkal yang didiami terumbu karang tersebut," katanya.

Selain itu, kapal pengawas terumbu karang juga diperlukan untuk mendukung pengawasan area segitiga terumbu karang dunia yang disepakati enam negara pemrakarsa "Coral Triangle Initiative" (CTI).

Luas area terumbu karang Indonesia di kawasan CTI tersebut mencapai 50.000 kilometer persegi (Km2).

Indonesia memerlukan kapal yang mampu beroperasi di perairan dangkal tanpa merusak ekosistem terumbu karang, hemat bahan bakar dan operasionalisasinya murah.Dia menyebut kapal layar Catamaran panjang 15 meter seharga Rp14,3 miliar masuk kriteria kapal pengawas terumbu karang.

"Ini hanya semacam `prototipe` saja. Nantinya diharapkan dapat dicontoh dan dibangun di Indonesia," ujar dia.

Kapal buatan Perancis yang pembeliannya menggunakan dana anggaran untuk memodifikasi tiga unit kapal pencuri ikan asal China yang tertangkap tahun 2008, hingga dapat dimanfaatkan sebagai kapal pengawas perikanan.(*)








 

CopyRight @ Berita Nusantara.Com 2010